Thursday, January 29, 2009
Monday, April 21, 2008
Mulia
Bukan merek keramik. Entah kenapa saya dari kemarin ini kok banyak merenungkan tentang kemuliaan. Saya tahu hanya Tuhan yang pantas dimuliakan, hanya saja belakangan saya melihat (dan merasakan) banyak orang yang pengen jadi seperti Tuhan. Saya cobalah mengindentifikasi kemuliaan yang sedang jadi pikiran saya:
1. Mulia di mata Tuhan
2. "Mulia" di mata manusia.
Itulah, pusing2 mikirin kemuliaan, ujung2nya cuma dua. Tentang yang pertama, dulu saya sungguh berpikir bahwa mulia di mata Tuhan otomatis mulia juga di mata manusia. Naif banget. Tuhan Yesus saja yang mulia di mata Bapa, diperlakukan lebih rendah dari binatang oleh manusia ciptaannya sendiri. Ampunilah kami Gusti.
Yang kedua ini malah lebih rumit. Dalam hal berpura-pura, memakai kedok, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak ada makhluk di bawah langit yang lebih pintar dari manusia. Bahkan Tuhan Yesus sendiri disalibkan dengan konspirasi licik manusia. Aku tersentuh sewaktu Deddy Mizwar dalam acara Kick Andy, Metro TV, sempat menangis sewaktu beliau hendak menggambarkan betapa banyak orang Indonesia tidak di"orang"kan oleh bangsanya sendiri. (Betul begitu Bang?)
Siapa sih sebenarnya mereka yang mulia di mata manusia? Sekarang ini saya tergoda sekali untuk mengatakan bahwa mereka yang merasa diri "mulia" adalah orang-orang yang berkantor di Senayan, bentuk gedung mereka menyerupai gunung, sehingga mereka merasa dirinya dewa yang memandang kebumi. Tapi dalam level lain masih banyak kok yang tidak berkantor di Senayan tapi merasa mulia. Pernah kan ketemu pengendara mobil dan motor yang masuk jalur busway karena gak merasa pantes ikut bermacet ria bersama pemakai jalan yang lain? Pernah gak di bank ketemu orang yang menyerobot antrian? Atau kendaraan yang kita tumpangi disenggol/diserempet/ditabrak kendaraan lain dan anehnya yang menyenggol malah lebih galak daripada yang disenggol? Pernah ketemu rombongan kecil yang menerobos macet di jalur Puncak dengan kawalan voorrijders hanya dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah? Atau yang ini, pernah lihat ada orang yang tidak pernah bisa menyikapi perbedaan? Ironisnya mereka berani menginjak hak orang lain karena merasa lebih mulia dan pada saat yang bersamaan mereka men de-muliakan diri mereka sendiri. Semua serba terbalik.
Kabar baiknya adalah Tuhan begitu mengasihi dan mengenal kita bahkan sebelum kita mengenalnya. Dia sanggup mengubah kondisi bahkan hidup kita, kalau kita sungguh mau mengikutNya. Kasihnya yang lembut itu sanggup menekuk baja yang paling kuat sekalipun. Sanggup membuat orang yang paling egois sekalipun tidak lagi mementingkan dirinya sendiri.
Kembali ke masalah kemuliaan di mata manusia, saya kok merasakan bahwa semua ma
salah duniawi itu sebenarnya ada jalan keluarnya. Tangan Tuhan sudah terbuka sejak dahulu, hanya saja kita sebagai anakNya yang nakal, lebih suka berlarian, melompat kesana kemari sambil berteriak "Aku,aku! Aku dulu!", sampai akhirnya kita jatuh terjerembab dan kembali mencari tangan Bapa yang dengan tidak memperhitungkan kenakalan kita, mengelus kepala kita dengan lembut. Masalahnya mau berapa kali kita jatuh sebelum kita menyadari bahwa bisa merasakan kedamaian hanya dengan berbagi dengan orang lain? Berbagi bukan hanya rezeki dan kebahagiaan, tetapi juga berbagi penderitaan bermacet ria di jalan.
Thursday, March 6, 2008
Wednesday, March 21, 2007
Tuesday, March 13, 2007
Wednesday, March 7, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)
